Kebanyakan Olahraga Awas Terkena Serangan Jantung
Olahraga rasanya wajib untuk menjaga kesehatan. Tapi bila dilakukan secara berlebihan, maka salah-salah malah mampu menjadi ancaman. Kok mampu? serangan jantung yaitu penyakit yang mematikan)
Kita mungkin sedikit heran kenapa yaa, kok mampu begitu cepat pergi menghadap illahi. Padahal selama ini, kita lihat baik-baik saja di televisi sebagai presenter atau pun sebagai komedian seperti komedian Basuki. Kok mampu kena serangan jantung?
Kesadaran berolahraga semakin meningkat
Kesadaran orang untuk berolahraga memang meningkat ketika ini. Terbukti dari menjamurnya sentra-pusat kebugaran di banyak sekali kota maupun tempat. Belum lagi berbagai aktivitas olahraga di daerah-kawasan publik. Orang berbondong-bondong untuk berolahraga tak cuma di akhir pekan.
Namun banyak orang seakan tak peduli dengan kondisi tubuhnya. Mereka memaksa berolahraga berat meski badannya keletihan dan kurang tidur. Misalnya dengan berlari atau bersepeda berkilo-kilo meter. Padahal gres-baru ini para mahir menyatakan olahraga yang termasuk latihan ketahanan mirip lari maraton mampu menjadikan kerusakan jantung. Termasuk ketidaknormalan ritme jantung. Para ilmuwan di Amerika menyatakan, acuan latihan intensif dan kompetisi olahraga ketahanan yang ekstrem dan dalam jangka waktu usang dapat membahayakan jantung.
Olahraga ketahanan itu antara lain maraton, triatlon, dan bersepeda jarak jauh. Hal itu mampu menimbulkan perubahan struktur jantung dan pembuluh darah sehingga dapat merusak organ jantung. Ini meningkatkan risiko sebesar lima kali lipat atas terjadinya gangguan jantung,” ujar Dr. James O’Keefe dari Saint Luke’s Hospital of Kansas City.
Olahraga bermanfaat bagi tubuh
Tak mampu dipungkiri, olahraga memang akan menawarkan manfaat kesehatan bagi badan. Namun bisa berbahaya kalau dilakukan berlebihan atau terlalu usang. Apalagi jika dalam kondisi badan kurang istirahat. Jika dipaksakan, hal ini mampu mengakibatkan ajal mendadak.
Penemuan ini tentu bukan ingin menakuti orang untuk berolahraga. Namun paling tidak, dengan adanya studi ini, orang-orang akan makin aware dengan cara berolahraga yang baik dan benar. Menurut Dr. O’Keefe, selama ini orang masih beranggapan bahwa olahraga yang baik yaitu yang berat. Padahal, latihan ekstrem justru malah membahayakan badan. Latihan ekstrem tidak benar-benar aman bagi jantung.
Durasi sekitar 30-60 menit sehari sudah cukup, Hal senada juga diungkapkan Dr. med. Suhantoro, SpKO, FACSM (K). Menurutnya, olahraga bisa menimbulkan persoalan jikalau dilakukan tidak sesuai takaran, jenis olahraga dan umur.
Selama ini, banyak orang terkesan tidak peduli soal dosis olahraga yang kondusif. “Sehingga banyak masalah orang yang meninggal sehabis olahraga,” kata dokter yang sudah malang melintang menangani PSSI dan KONI.
Sampai usia 30 tahun, badan seseorang boleh jadi masih mampu melakukan kompensasi terhadap aktivitas olahraga yang berat. Namun kalau telah melewati usia 30 tahun, orang sudah harus mengecek dosis untuk olahraganya. Saat berolahraga, detak jantung, tekanan darah sistolik (atas), dan cardiac output (jumlah darah yang dipompa per denyut jantung) mengalami peningkatan.
Aliran darah ke jantung, otot dan kulit juga meningkat. Akibatnya, metabolisme badan menjadi lebih aktif memproduksi CO2 (karbon dioksida/oksida asam) dan H+ (ion proton) pada otot. Akhirnya orang akan bernapas lebih cepat dan dalam untuk memasok oksigen.
Olahraga berat tubuh tidak bisa hanya mengandalkan pasokan oksigen
Olahraga berat itu menciptakan metabolisme tubuh tidak bisa lagi hanya mengandalkan pasokan oksigen tapi memakai proses biokimia. Proses biokimia ini menghasilkan asam laktat yang kemudian memasuki fatwa darah.
Penumpukan asam laktat ini akan membuat badan merasa capai dikala olahraga. Kadar oksigen juga menurun akibat penumpukan karbon dioksida dalam darah. “Makara ada miliaran darah mati alasannya dikala olahraga badan orang akan menjadi asam, Ph akan menjadi sekitar 6,7-6,8. Padahal badan itu harus dalam kondisi basa adalah Ph 7,” ujar Dr. Suhantoro.
Ada bahaya kematian bila Ph tubuh mencapai Ph 6,3. Inilah yang menjadikan terjadi kram otot dan kram jantung yang menciptakan banyak orang terkena serangan jantung setelah berolahraga. Tubuh perlu waktu sekitar 30 menit untuk menetralkan asam ini dengan cara istirahat. “Kalau ngos-ngosan sebaiknya istirahat dulu, jangan dipaksakan berlari terus. Ini untuk recovery."
Dosis aman berolahraga
Dosis kondusif berolahraga Meski banyak perkara orang meninggal setelah atau saat berolahraga, tapi bukan berarti Anda harus berhenti melakukannya kan? Berikut tips kondusif berolahraga sesuai usia. Cara yang aman yakni mengukur denyut nadi maksimal (DNM). DNM yakni denyut nadi maksimal yang dihitung berdasarkan rumusan DNM = 220 - umur, lalu dikalikan dengan intensitas membakar lemak 60-70 persen DNM.
Jika Anda berusia 40 tahun maka DNM ketika ia berolahraga ialah 220 - 40 = 180. Kemudian angka 180 dikalikan dengan 60 persen untuk batas ringan dan 70 persen untuk batas atas yang kesudahannya 108-126 per menit. Maka orang berusia 40 tahun harus berhenti sejenak ketika denyut nadinya sudah melampaui 126 per menit. Jika dipaksakan maka yang terjadi yaitu kram jantung yang membuat serangan jantung.
Untuk menghitung denyut jantung mampu dengan cara menghitung nadi di akrab tangan atau yang lebih simpel menggunakan jam yang ada detak jantungnya. Jika sudah merasa melampaui takaran saat lari dalam olahraga futsal contohnya, berikan saja bola-bola itu ke orang lain. Saat istirahat, minumlah air dengan suhu 15-16 derajat atau minuman elok dengan kadar gula 2,5-5 persen. “Minuman yang terlalu acuh taacuh akan sulit di-absorb badan sebab suhu tubuh setelah olahraga sedang dalam kondisi panas,” jelas Dr. Suhantoro. Dikutip dari berbagai sumber.


Belum ada Komentar untuk "Kebanyakan Olahraga Awas Terkena Serangan Jantung"
Posting Komentar